Jumat, 20 Desember 2019

KAMPUNG KONSERVASI BURUNG DI JOGJA

DI SEBUAH  DESA  DI  KULONPROGO , KICAU  BURUNG  DILINDUNGI  DENDA  BISA SAMPAI  Rp15 JUTA
Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulonprogo, menyimpan kekayaan flora dan fauna. Kurang lebih 90 jenis burung berkembang biak di desa yang dijadikan konservasi mandiri itu. Peraturan Desa (Perdes) tentang Lingkungan Hidup dibuat untuk menjaga kelestarian burung-burung. Pemburu burung akan didenda minimal Rp5 juta. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Fahmi Ahmad Burhan.

Pagi di Desa Jatimulyo di Perbukitan Menoreh terasa bersahaja dan dingin. Kicau burung bertalu-talu di seantero desa, mengawali keseharian penduduk: ada yang bertani, berjualan di pasar, dan berangkat ke balai desa.

Nyanyian burung pagi hari dianggapnya sebagai pembawa semangat warga. 

“Kalau bagi saya pribadi, kicauan burung seperti pagi hari dulu waktu muda dengerin Metallica [band rock],” kata Kepala Desa Jatimulyo, Anom Sucondro, Rabu (26/6).

Menurut Anom, ocehan burung di Jatimulyo mempengaruhi kondisi psikologis warga. 

“Suara burung atau ayam di hutan memberi energi positif.”

Jatimulyo sudah jadi kawasan konservasi yang dikelola secara mandiri oleh warga setempat. Di dalamnya, banyak kekayaan flora dan fauna tersimpan. Sekitar 90 jenis burung hidup di Jatimulyo.

“Pelatuk bawang, elang ular bido, sulingan, cabe, cakakak jawa. Ada juga ayam hutan,” ujar Anom menyebutkan sebagian jenis burung yang berkembang biak di Jatimulyo.

Pemerintah Desa Jatimulyo membuat sebuah peraturan untuk menjaga lingkungan. Peraturan Desa (Perdes) No.8/2014 tentang Pelestarian Lingkungan Hidup itu mengatur langkah-langkah desa dalam pelestarian flora dan fauna di Desa Jatimulyo. Salah satu bagiannya mengatur pelestarian burung.

“Kami beri denda apabila ada yang menangkap burung, minimal Rp5 juta,” kata Anom.

Perdes yang ada sejak 2014 itu dianggap manjur mengendalikan para pemburu burung.

“Dulu, menangkap burung seperti mancing saja, banyak,” katanya.

Para pemburu burung tidak hanya berasal dari Jatimulyo, tetapi juga warga luar desa.

Mereka membawa senapan angin. Kini, setelah perdes diberlakukan, tidak ada lagi penangkapan burung di Jatimulyo.

Konservasi burung melengkapi kekayaan Jatimulyo. Beberapa objek wisata yang sedang naik daun di Kulonprogo, mulai dari Taman Ekowisata Sungai Mudal, Goa Kiskendo, Air Terjun Kedung Pedut, Air Terjun Kembang Soka, semuanya masuk kawasan Jatimulyo.

Wildlife Rescue Center (WRC), Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY), Yayasan Kutilang Indonesia, sampai komunitas pemotret burung sering melepasliarkan burung di Jatimulyo, lokasi yang dianggap paling ramah untuk burung.

Pada pertengahan Juni lalu, WRC Jogja melepaskan dua ekor elang ular bido atau Spilornis cheela yang diberi nama Si Kuat dan Jenggala di kawasan Punthuk Gondang, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo.

Koordinator Bidang Konservasi, WRC Jogja, Irhamna Putri, mengatakan Si Kuat yang berjenis kelamin betina sudah menjalani proses rehabilitasi sejak 2017. Adapun Jenggala yang berjenis kelamin jantan sudah dari 2014 di rehabilitasi.

Selama rehabilitasi keduanya dilatih memangsa, terbang dan hal lainnya agar bisa beradaptasi dengan habitat alaminya. 

“Proses ini berlangsung cukup lama karena satwa ini sempat dijadikan peliharaan warga, jadinya sifatnya berubah," tutur Irhamna.

Kepala BKSDA DIY Junita mengatakan kedua burung tersebut dilepas di Desa Jatimulyo karena desa tersebut sudah menjadi kawasan desa ramah burung. 

“Beberapa kali kami juga melakukan kegiatan serupa di Desa Jatimulyo. Informasi dari masyarakat, raptor juga sudah bertelur. Kemarin ada gelatik jawa juga kami lepaskan di sini,” ujar Junita.

Selain Desa Jatimulyo, keberadaan burung-burung liar yang dilindungi juga bisa ditemui di wilayah Suaka Margasatwa Sermo, Kecamatan Kokap. Berdasarkan hasil pendataan BKSDA DIY, ada sedikitnya delapan ekor elang ular bido, 10 elang jenis asia dan burung dilindungi jenis lainnya di Desa Jatimulyo dan Suaka Margasatwa Sermo.

Ia mengimbau pada masyarakat agar tidak memelihara burung tersebut. “Biarkan satwa hidup bebas di alam. Bagi masyarakat yang masih memelihara burung-burung langka, segera serahkan satwa itu ke BKSDA agar bisa direhabilitasi.

Harianjogja/Fahmi Ahmad Burhan
#konservasi_burung #desa_konservasi #tledekan_gunung #sikatan_cacing

BURUNG LUAR NEGERI:MUSICIAN WREN

MUSICIAN WREN
The #musician_wren or organ wren (#Cyphorhinus_arada) is a species of wren named for its elaborate song. It is native to the Amazon Rainforest in South America, and west and southwestwards into the Amazonian Andes. In Portuguese it is known as uirapuru or many other variants of this name, all based on the Tupi wirapu 'ru. Especially in Brazil, the musician wren is the subject of several legends and fables, most relating to its loud and beautiful song. One of these tells that when it starts singing all other birds stop their song to hear it. The musician wren is also believed to bring good luck, which leads some people to kill it in order to have it stuffed.[2] Even though there are no reliable statistics of its numbers, the musician wren, due to its large range and being locally fairly common, is not considered threatened.

Has been regarded as conspecific with C. phaeocephalus (which see). NE nominate race (Guianas centre of endemism) the most distinctive morphologically, but part-matched by E race griseolateralis S of Amazon (Tapajós centre); adjacent interpositus (Rondônia centre) has different head pattern but shares grey belly with previous two; races modulator (Inambari centre), salvini (Napo centre) and transfluvialis (Imeri centre) resemble interpositus but have tawny underparts, each differing rather subtly from the other; songs of all races show moderate degrees of divergence but variation considerable, hence exhaustive analysis needed if real distinctions to be demonstrated; nevertheless, each subspecies is genetically well marked, and further research may result in revised species limits. Races urbanoi and faroensis, recognized in HBW, have been proposed as synonyms as their diagnostic characters sit within the plumage variation of nominate; this view accepted here. Species name often emended to aradus but must remain invariable because from a local native language, not Latin. Six subspecies recognized.

Subspecies and Distribution

C. a. #arada (Hermann, 1783) – Guianan Musician Wren – E & SE Venezuela, the Guianas and NE Brazil (E from lower R Negro, S to Amazon).

C. a. #transfluvialis (Todd, 1932) – Imeri Musician Wren – base of E Andes in S Colombia (Caquetá) E to NW Brazil (E to R Negro).

C. a. #salvini Sharpe, 1882 – Napo Musician Wren – S Colombia (Putumayo), E Ecuador and NE Peru (Loreto).

C. a. #modulator (d’Orbigny, 1838) – Inambari Musician Wren – lowlands of E Peru, W Brazil (E, S of Amazon, to R Madeira) and N Bolivia.

C. a. #interpositus (Todd, 1932) – Rondonia Musician Wren – NC Brazil from R Madeira E to R Tapajós, S to N Mato Grosso.

C. a. #griseolateralis Ridgway, 1888 – Tapajos Musician Wren – S bank of lower Amazon E of R Tapajós, S to R Jamanxim (Brazil).

BURUNG SIKATAN BESAR

#BURUNG_SIKATAN_DI_INDONESIA

#SIKATAN_BESAR 
#White_tailed_Flycatcher
#Cyornis_concretus
Oleh:Masykur Arwani AD 
Deskripsi:

Berukuran agak besar (sekitar 19 cm), berwarna gelap. 

Ras Sumatera: berbercak putih mencolok pada ekornya yang terkembang. 

Jantan: tubuh bagian atas biru tua, terdapat warna hitam pada sisi kepala dan bulu 
terbang, dada hitam menjadi putih pada tungging. 

Betina: coklat, ada garis putih lebar pada tenggorokan, perut dan penutup ekor bawah putih. 

Remaja: tubuh bagian atas coklat berbintik-bintik merah karat, tubuh bagian bawah bersisik hitam. 

Iris coklat tua, paruh hitam, kaki kelabu tua. 
Suara: Siulan berdesis bervariasi dan tanda bahaya: “skrii” serak. 

Penyebaran global: Assam, Asia tenggara, Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan. 

Penyebaran lokal dan status: Di Sumatera dan Kalimantan, kadang-kadang terlihat di hutan perbukitan antara ketinggian 300-1.300 mdpl. Juga sampai dekat daerah pesisir di beberapa tempat di Kalimantan. 

Kebiasaan: Hidup menyendiri pada tumbuhan bawah di hutan perbukitan dan pegunungan. 

Status konservasi:

DILINDUNGI #PERMENT_LHK_NO_P_106/ TAHUN 2018

Subspecies dan distribusi 

Ras #cyaneus (A. O. Hume, 1877)

Persebaran meliputi  India (Arunachal Pradesh,Assam,Meghalaya, Mizoram),Myanmar (Tenasserim),China Selatan (Yunnan),Thailand Barat dan Selatan,Laos Utara dan Vietnam Utara (Tonkin ke Annam, tidak menutup kemungkinan ke wilayah Cochinchina).

Ras #concretus (S. Müller, 1836)
Persebarannya meliputi  Peninsula Malaya dan Sumatra.

Ras #everetti (Sharpe, 1890)
Persebarannya hanya di wilayah Kalimantan 

Sampel suara di alam liar 👇👇

https://www.xeno-canto.org › species
White-tailed Flycatcher (Cyornis concretus) :: xeno-canto

Sumber:Fieldguide burung FKJB,HBW,pinterest,XenoCanto etc

BURUNG SIKATAN BIRU MUDA

#BURUNG_SIKATAN_DI_INDONESIA

#SIKATAN_BIRU_MUDA 
#Cyornis_unicolor
#Pale_Blue_flycatcher
Oleh:Masykur Arwani AD 
Deskripsi: 

Berukuran agak besar (16 cm), berwarna biru muda (jantan) atau kecoklatan (betina). 

Jantan: tubuh 
bagian atas biru pirus terang, kekang hitam, tenggorokan dan dada biru lebih muda, perut putih keabuan, 
penutup ekor bawah putih. 

Betina: tubuh bagian atas coklat-kelabu, ekor lebih coklat-merah bata, tubuh bagian 
bawah coklat keabuan, lingkar mata dan kekang kuning-coklat. 

Remaja: coklat, berbintik hitam dan kuning kecoklatan. 
Iris, paruh, dan kaki coklat. 

Suara: Nyanyian manis, nyaring, menurun, kemudian tiga nada terakhir menaik lagi. Juga suara parau (kadang�kadang). 

Persebaran global: Himalaya sampai Cina selatan, Asia tenggara, Semenanjung Malaysia, dan Sunda Besar. 

Persebaran lokal dan status: Di Sumatera ditemukan di gunung-gunung ke selatan sampai G. Kerinci. Di 
Kalimantan dan Jawa tidak umum terdapat di hutan perbukitan antara ketinggian 500-1.400 m, secara lokal sampai ketinggian 200 mdpl di Kalimantan. Di Bali tidak tercatat. 

Kebiasaan: Tinggal pada tajuk di hutan primer. Agak pemalu. 

Subspecies dan Distribusi

Ras #unicolor Blyth, 1843
Persebarannya meliputi Garhwal (Uttarakhand) dan dari Nepal di Himalaya ke India (Arunachal Pradesh, Assam, Meghalaya dan Nagaland),China Selatan (Xizang,Yunnan dan Guangxi), Myanmar, Thailand,Laos dan Vietnam (Tonkin, Annam); non-breeding juga  di India (Brahmaputra Valley) dan mungkin di Bangladesh.

Ras #diaoluoensis (Zheng Baolai et al., 1981) Ersebarannya hanya di  Hainan.

Ras #cyanopolia Blyth, 1870
Perawatannya di Peninsula Malaya, Sumatra, Jawa dan Borneo(Kalimantan)

Status dan konservasi:Least Consern(LC),tidak dilindungi.
Contoh suara di alam liar 👇

https://www.xeno-canto.org/species/Cyornis-unicolor

Sumber:Fieldguide burung FKJB,HBW,pinterest,XenoCanto etc

BURUNG SIKATAN RIMBA COKLAT

#BURUNG_SIKATAN_DI_INDONESIA
Seri #sikatan_migran
Oleh:Masykur Arwani AD 

#SIKATAN_RIMBA_COKLAT 
#Cyornis_brunneatus
#Brown_chested_Jungle_flycatcher

Deskripsi: 

Berukuran sedang (15 cm), berwarna kecoklatan. Mirip Sikatan-rimba dada-coklat. 

Perbedaannya: 

Garis pada dada coklat pucat, ada sisik gelap samar pada kerongkongan yang keputih-putihan, rahang bawah pucat. 

Remaja: tubuh bagian atas bersisik kuning tua, rahang bawah berujung hitam. 
Iris coklat, paruh atas kehitaman, pangkal keputih-putihan di bawah, kaki merah muda. 

Suara: Dengungan parau. 

Penyebaran global: Di Asia tenggara, bermigrasi ke selatan pada musim dingin sampai Semenanjung Malaysia. 

Penyebaran lokal dan status: Migran yang langka, tercatat satu kali di Brunei. 

Kebiasaan: Tinggal pada tajuk bawah di pinggir hutan, hutan sekunder, dan perkebunan. 

Distribusi:

Berbiak di China (Henan,Anhui Selatan  dan Zhejiang ke Guangxi, Guangdong dan Fujian); non-breeding bermigrasi ke Peninsular Malaya dan kemungkinan juga ke hutan dataran rendah Sumatra.

Contoh suara di alam liar 

https://www.xeno-canto.org/species/Cyornis-brunneatus

Sumber:Fieldguide burung FKJB,HBW,XenoCanto,interest etc

BURUNG SIKATAN RIMBA DADA KELABU

#BURUNG_SIKATAN_DI_INDONESIA
Oleh:Masykur Arwani AD 

Masih berlanjut membahas jenis2 Sikatan yang ada di Indonesia. Kali ini kita akan mengupas SRDK.Cekidot....

#SIKATAN_RIMBA_DADA_KELABU 
#Cyornis_umbratilis
#Grey_chested_Jungle_Flycatcher

Deskripsi:

Berukuran sedang (15 cm), berwarna coklat. Kerongkongan putih, kontras dengan garis kelabu kecoklatan pada dada. Remaja: sayap bergaris kuning-merah karat dan bersisik. 

Perbedaannya dengan beberapa burung pengoceh yang berwarna sama: pada tingkah laku dan tanpa alis, lingkar mata, atau kumis. 

Perbedaannya dengan sikatan-rimba lain: warna garis pada dada kelabu, bukan coklat. 
Iris coklat tua, paruh hitam, kaki kelabu-merah muda. 

Suara: Nyanyian terdiri dari empat sampai enam nada yang merdu, lemah, berkerincing menurun: “tii, ti-ti-tuti-tu” (M.&W.). Juga tiga nada yang bernada sama diikuti dengan getaran. 

Penyebaran global: Secara ekstrim ada di Thailand Selatan.Semenanjung Malaysia, Sumatera dan Kalimantan. 

Penyebaran lokal dan status: Di Sumatera (termasuk pulau-pulau di sekitarnya Belitung,Musala,Batu(Tanahmasa)) dan Kalimantan, penetap setempat di hutan primer dan hutan sekunder dataran rendah, hutan rawa gambut, dan perkebunan, sampai 
ketinggian 1.000 mdpl.

Kebiasaan: Khas kebiasaan sikatan. Menghabiskan waktu pada tumbuhan bawah di hutan. Mengejar serangga, 
tetapi tidak hinggap di tanah. 

Sampel suara di alam

https://www.xeno-canto.org/species/Cyornis-umbratilis

Silahkan bantuannya untuk melengkapi jika dirasa ada yang kurang lengkap dengan artikel ini.Terimakasih...

Sumber:Fieldguide burung FKJB,HBW,Dbird,XenoCanto,etc 

DAFTAR BURUNG SIKATAN DI INDONESIA

#BURUNG_SIKATAN_DI_INDONESIA
Oleh: Masykur Arwani AD

681. SIKATAN-RIMBA DADA-COKLAT Rhinomyias olivacea Lembar Gambar 76 
(I: Fulvous-chested Jungle-Flycatcher) 
Deskripsi: Berukuran sedang (15 cm), berwarna kecoklatan. Tubuh bagian atas coklat keabuan, tersapu merah 
karat pada tungging dan ekor. Dagu dan tenggorokan keputih-putihan, garis tebal melintang pada dada berwarna 
kuning kecoklatan (bukan kelabu), perut dan ekor bawah keputih-putihan. 
Iris coklat, paruh hitam, kaki merah muda. 
Suara: Dengungan yang memanjang, nada konstan per detik, diselingi dengan nyanyian yang terburu-buru. 
Frase nyanyian terdiri dari tujuh sampai sembilan nada dengan nada yang berbeda. Setiap frase memakan waktu 
sekitar 1,5 detik, khas nyanyian sikatan (D.A.H). 
Penyebaran global: Semenanjung Malaysia dan Sunda Besar. 
Penyebaran lokal dan status: Di Jawa, Bali, dan Sumatera (termasuk Belitung), agak jarang di dataran rendah 
sampai ketinggian 1.200 m. Ditemukan hanya secara lokal di Kep. Natuna, Banggi, dan Belambangan 
(Kalimantan bagian utara). 
Kebiasaan: Mengunjungi pinggir hutan, hutan sekunder, dan perkebunan. Tinggal pada tajuk bawah. Berburu 
sendirian di antara dedaunan, terbang mengejar serangga. 

682. SIKATAN-RIMBA COKLAT Rhinomyias brunneata Lembar Gambar 76 
(I: Brown-chested Jungle-flycatcher) 
Deskripsi: Berukuran sedang (15 cm), berwarna kecoklatan. Mirip Sikatan-rimba dada-coklat. Perbedaannya: 
garis pada dada coklat pucat, ada sisik gelap samar pada kerongkongan yang keputih-putihan, rahang bawah 
pucat. Remaja: tubuh bagian atas bersisik kuning tua, rahang bawah berujung hitam. 
Iris coklat, paruh atas kehitaman, pangkal keputih-putihan di bawah, kaki merah muda. 
Suara: Dengungan parau. 
Penyebaran global: Di Asia tenggara, bermigrasi ke selatan pada musim dingin sampai Semenanjung Malaysia. 
Penyebaran lokal dan status: Migran yang langka, tercatat satu kali di Brunei. 
Kebiasaan: Tinggal pada tajuk bawah di pinggir hutan, hutan sekunder, dan perkebunan. 

683. SIKATAN-RIMBA DADA-KELABU Rhinomyias umbratilis Lembar Gambar 76 
(I: Grey-chested Flycatcher) 
Deskripsi: Berukuran sedang (15 cm), berwarna coklat. Kerongkongan putih, kontras dengan garis kelabu 
kecoklatan pada dada. Remaja: sayap bergaris kuning-merah karat dan bersisik. Perbedaannya dengan beberapa 
burung pengoceh yang berwarna sama: pada tingkah laku dan tanpa alis, lingkar mata, atau kumis. 
Perbedaannya dengan sikatan-rimba lain: warna garis pada dada kelabu, bukan coklat. 
Iris coklat tua, paruh hitam, kaki kelabu-merah muda. 
Suara: Nyanyian terdiri dari empat sampai enam nada yang merdu, lemah, berkerincing menurun: “tii, ti-ti-tu�ti-tu” (M.&W.). Juga tiga nada yang bernada sama diikuti dengan getaran. 
Penyebaran global: Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan. 
Penyebaran lokal dan status: Di Sumatera (termasuk pulau-pulau di sekitarnya) dan Kalimantan, penetap 
setempat di hutan primer dan hutan sekunder dataran rendah, hutan rawa gambut, dan perkebunan, sampai 
ketinggian 1.000 m. 
Kebiasaan: Khas kebiasaan sikatan. Menghabiskan waktu pada tumbuhan bawah di hutan. Mengejar serangga, 
tetapi tidak hinggap di tanah. 

684. SIKATAN-RIMBA EKOR-MERAH Rhinomyias ruficauda Lembar Gambar 76 
(I: Rufous-tailed Jungle-flycatcher) 
Deskripsi: Berukuran sedang (15 cm), berwarna coklat merah-karat. Ekor berwarna coklat berangan terang. 
Tubuh bagian bawah keputih-putihan, garis dada kelabu, tungging kuning kemerahan. Perbedaannya dengan 
Sikatan-rimba dada-kelabu: ekor sangat merah karat. 
Iris coklat suram, paruh hitam, kaki merah jambu kebiruan. 
Suara: “Cirr” memanjang. 
Penyebaran global: Filipina dan Kalimantan. 
Penyebaran lokal dan status: Di Kalimantan terbatas di barisan pegunungan tinggi, antara ketinggian 1.000-
2.000 m. Jarang tercatat pada permukaan laut. 
Kebiasaan: Pada waktu terbang, memburu serangga dari tenggeran rendah atau dalam tetumbuhan. Hidup di 
pinggir hutan dan hutan terbuka. 

685. SIKATAN-RIMBA GUNUNG Rhinomyias gularis Lembar Gambar 76 
(I: Eye-browed Jungle-flycatcher) 
Deskripsi: Berukuran sedang (15 cm), berwarna coklat kemerahan. Tubuh bagian atas merah- coklat karat, 
muka kemerahan, kekang dan alis kuning tua khas. Tubuh bagian bawah kelabu dengan tenggorokan putih yang 
sangat kontras, perut bawah nyaris putih. 
Iris coklat, paruh hitam, kaki kelabu. 
Suara: Dengungan keras ketika bersarang. Pada waktu lain diam. 
Penyebaran global: Filipina dan Kalimantan. 
Penyebaran lokal dan status: Umum terdapat di Kalimantan, penetap di gunung-gunung tinggi, antara 
ketinggian 1.000-2.000 m, tercatat dari G. Kinabalu ke selatan sampai Tawa Abo, Gunung Mulu, dan Kayan 
Mentarang. 
Kebiasaan: Penuh rasa ingin tahu. Seperti cingcoang atau kucica. Tinggal dekat tanah, sendirian atau dalam 
kelompok kecil. 
Catatan: Beberapa penulis cenderung untuk membagi jenis ini ke dalam tiga jenis Filipina (goodfellowi, 
albigularis, dan insignis) serta R. gularis sebagai endemik Kalimantan. 

686. SIKATAN SISI-GELAP Muscicapa sibirica Lembar Gambar 76 
(I: Dark-sided Flyatcher) 
Deskripsi: Berukuran kecil (13 cm), berwarna coklat jelaga dengan sisi tubuh gelap. Tubuh bagian atas coklat 
jelaga, garis sayap kuning tua. Tubuh bagian bawah putih dengan sisi berbintik kelabu jelaga, ada garis berbintik 
kelabu melintang pada dada atas. Lingkar mata putih, setengah kerah putih mencolok, kumis bercoret-coret 
hitam. Remaja: berbercak putih pada wajah dan punggung. 
Iris coklat tua, paruh dan kaki hitam. 
Suara: “Ci-ep, ci-ep, ci-ep” yang riang. 
Penyebaran global: Berbiak di Asia timur laut dan Himalaya. Pada musim dingin bermigrasi ke Cina selatan, 
Palawan, Asia tenggara, dan Sunda Besar. 
Penyebaran lokal dan status: Pengunjung tetap di Sumatera utara dan Kalimantan bagian utara (termasuk 
Natuna dan Anambas), tetapi tidak umum di perbukitan, biasanya sampai ketinggian 1.000 m. Pengunjung 
yang langka di hutan pegunungan sampai ketinggian 1.500 m di Jawa barat. Tidak ditemukan di Bali. 

687. SIKATAN BURIK Muscicapa griseisticta Lembar Gambar 76 
(I: Grey-streaked Flycatcher) 
Deskripsi: Berukuran sedang (15 cm), berwarna coklat-kelabu. Lingkar mata putih, tubuh bagian bawah putih 
bercoret kelabu mencolok. Ada garis sempit putih melintang pada dahi (sulit terlihat di lapangan) dan garis 
pucat suram pada sayap. 
Iris coklat, paruh dan kaki hitam. 
Suara: Tidak tercatat di Kalimantan. 
Penyebaran global: Berbiak di Asia timur laut. Pada musim dingin bermigrasi ke Cina selatan, Filipina, dan 
Sulawesi sampai P. Irian. 
Penyebaran lokal dan status: Pengunjung musim dingin yang langka tercatat di Sabah, Kalimantan barat, dan 
Kalimantan timur. 
Kebiasaan: Pemalu, biasa ditemukan di dekat aliran air, di hutan lebat, hutan terbuka, dan pinggir hutan.

688. SIKATAN BUBIK Muscicapa dauurica Lembar Gambar 76 
(I: Asian Brown Flycatcher) 
Deskripsi: Berukuran kecil (12 cm), berwarna coklat keabuan. Ras pengembara latirostris: tubuh bagian atas 
coklat-kelabu, tubuh bagian bawah keputih-putihan, sisi dada dan sisi tubuh kelabu kecoklatan, lingkar mata 
putih. Penghuni Kalimantan ras umbrosa: lebih kecil dan lebih gelap, terutama pada kepala. Pengembara lain 
(bentuk williamsoni): lebih coklat, tersapu warna karat pada tubuh bagian atas, sisi tubuh bercoret kuning tua, 
lingkar mata kuning tua. 
Iris coklat, paruh hitam dengan pangkal rahang bawah kuning, kaki hitam. 
Suara: Getaran “crr” lembut dan nyanyian lemah yang tenang, tetapi biasanya diam. 
Penyebaran global: Berbiak di Asia timur laut dan Himalaya. Pada musim dingin mengembara ke selatan 
sampai India, Asia tenggara, Filipina, Sulawesi, dan Sunda Besar. Populasi penetap dan/atau migran juga 
terdapat di Filipina, Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kalimantan, dan Sumba. 
Penyebaran lokal dan status: Pada musim dingin, populasi Asia utara secara tetap mengunjungi daerah dengan 
ketinggian sampai 1.500 m di seluruh Sunda Besar (termasuk pulau-pulau di sekitarnya). Ras subtropis dan 
tropis diketahui dari Sumatera (penetap dan migran di Semenanjung Malaysia) dan Kalimantan bagian utara. 
Kebiasaan: Menyukai pinggir hutan atau hutan perbukitan, tetapi kadang-kadang juga ditemukan di hutan 
terbuka dan kebun. Sebagian mengunjungi pulau-pulau lepas pantai. Umumnya hidup sendirian atau bergabung 
dalam kelompok jenis campuran. Menangkap serangga dari tenggeran di atas pohon dan menggeletarkan ekor 
dengan cara yang khas ketika kembali ke tenggeran. 
Catatan: Ras-ras tropis penetap kadang-kadang diperlakukan sebagai beberapa jenis, yaitu M. williamsoni di 
Semenanjung Malaysia dan Kalimantan, M. randi di Filipina, dan M. segregata di Sumba. Kelihatannya burung 
dengan bulu peralihan menunjukkan antarkawin dengan Asian Brown Flycatcher. 

689. SIKATAN BESI Muscicapa ferruginea Lembar Gambar 76 
(I: Ferruginous Flycatcher) 
Deskripsi: Berukuran kecil (12 cm), berwarna coklat kemerahan. Lingkar mata kuning tua, ada bercak putih 
pada tenggorokan. Kepala warna jelaga, punggung coklat, tunggir merah karat. Tubuh bagian bawah putih 
dengan sisi tubuh dan penutup ekor bawah merah karat. 
Iris coklat, paruh dan kaki hitam. 
Suara: Biasanya diam pada musim dingin. 
Penyebaran global: Berbiak di Himalaya dan Cina selatan, pada musim dingin bermigrasi ke selatan sampai 
Sunda Besar. 
Penyebaran lokal dan status: Tercatat di Sumatera dan Kalimantan bagian utara, merupakan pengunjung yang 
tidak umum ke lereng-lereng gunung rendah, biasanya pada ketinggian antara 500-1.500 m. Pengunjung yang 
tidak umum pada semua ketinggian di Jawa barat. Di Bali tidak tercatat. 
Kebiasaan: Pemalu. Tinggal di bukaan dan pinggiran sungai kecil dan di tepi hutan rimba. Memburu serangga 
dari tenggeran rendah. 

690. SIKATAN HIJAU-LAUT Eumyias thalassina Lembar Gambar 76 
(I: Verditer Flycatcher; M: Burung Sambar Ranting) 
Deskripsi: Berukuran agak besar (16 cm), berwarna biru kehijauan. Jantan: kekang hitam, betina: lebih buram 
dengan kekang suram. Kedua jenis kelamin: penutup ekor bawah bersisik keputih-putihan. Remaja: coklat keabuan. tersapu kehijauan, bersisik dan berbintik kuning tua dan kehitaman. Perbedaannya dengan bentuk fase 
biru Philentoma sayap-merah: mata tidak merah; dengan Sikatan biru-muda jantan dan Sikatan ninon: warna 
lebih hijau, ada sisik keputih-putihan pada tungging yang kelabu biru. 
Iris coklat, paruh hitam, kaki kehitaman. 
Suara: Kicauan berirama, kurang parau dibandingkan dengan Sikatan biru-muda. Nada gemeretak keras yang 
khas (C.H). 
Penyebaran global: India sampai Cina selatan, Asia tenggara, Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan 
Kalimantan. 
Penyebaran lokal dan status: Di Sumatera dan Kalimantan, kadang-kadang ada di dataran rendah dan 
perbukitan, sampai ketinggian 1.400 m, tetapi biasanya lebih rendah. 
Kebiasaan: Memburu serangga, terbang dari tenggeran yang mencolok pada tajuk hutan terbuka atau pinggir 
hutan bekas tebangan. 

691. SIKATAN NINON Eumyias indigo Lembar Gambar 76 
(I: Indigo Flycatcher) 
Deskripsi: Berukuran sedang (14 cm), berwarna biru-nila gelap (warna utama), paling gelap, nyaris hitam di 
sekitar pangkal paruh. Dahi keputih-putihan, meluas menjadi alis di atas mata. Dada bawah keabuan, berangsur�angsur berubah menjadi keputih-putihan pada perut. Tungging kuning tua (putih pada burung Jawa). Remaja: 
dada dan tenggorokan berbercak merah muda. 
Iris coklat-merah, paruh dan kaki hitam. 
Suara: Seri panjang terdiri dari cicitan "fi-fu-fiu-fi-fii-...." yang berdering dan “trrrr-tr” keras. 
Penyebaran global: Endemik di Sunda Besar. 
Penyebaran lokal dan status: Di Sumatera, Kalimantan (tercatat di G. Kinabalu ke v sampai G. Murud, G. 
Mulu, dan Kayan Mentarang), dan Jawa, penetap yang cukup umum di daerah perbukitan dan pegunungan, 
antara ketinggian 900-3.000 m. Di Bali tidak tercatat. 
Kebiasaan: Hidup di hutan gelap di pegunungan, tetapi cukup jinak dan mudah didekati. Umumnya bertengger 
rendah, dekat tanah, suka ikut kelompok campuran. 

692. SIKATAN EMAS Ficedula zanthopygia Lembar Gambar 77 
(I: Yellow-rumped Flycatcher) 
Deskripsi: Berukuran kecil (13 cm), berwarna kuning, putih, dan hitam (jantan) atau coklat (betina). Jantan: 
tunggir, tenggorokan, dada, dan perut atas kuning; perut bawah dan penutup ekor bawah putih. Bagian lain 
hitam, kecuali alis dan garis sayap putih. Betina: tubuh bagian atas coklat buram, tubuh bagian bawah berwarna 
lebih pucat, tunggir kuning buram. Perbedaannya dengan jantan dan betina Sikatan narsis: alis putih, punggung 
jantan lebih hitam, dan tunggir betina kuning. 
Iris coklat, paruh dan kaki hitam. 
Suara: Khas: "pirip, pirip, ...." yang merdu, diselingi "tiit". Kadang-kadang juga terdengar kicauan yang 
pendek. 
Penyebaran global: Berbiak di Asia timur laut, mengembara pada musim dingin ke selatan sampai Cina 
selatan, Asia tenggara, dan Sunda Besar. 
Penyebaran lokal dan status: Pengunjung musim dingin yang tidak umum, sampai ketinggian 900 m di 
Sumatera. Di Kalimantan tercatat hanya di Anambas dan Brunei. Di Jawa dan Bali agak jarang, terdapat secara 
teratur di beberapa tempat. 
Kebiasaan: Mengunjungi daerah bersemak dan pohon rimbun. Lebih sering terdengar daripada terlihat. 
Catatan: Dulu diperlakukan oleh beberapa penulis sebagai ras dari Sikatan narsis. 

693. SIKATAN NARSIS Ficedula narcissina Lembar Gambar 77 
(I: Narcissus Flycatcher) 
Deskripsi: Berukuran kecil (13 cm), berwarna hitam dan kuning. Jantan: tubuh bagian atas hitam, tungging 
kuning, bercak sayap putih, alis kuning mencolok, tubuh bagian bawah umumnya kuning. Betina: tubuh bagian 
atas kelabu-zaitun, ekor merah karat, tubuh bagian bawah coklat muda tersapu kekuningan. Perbedaannya 
dengan betina Sikatan: tunggir berwarna zaitun. 
Iris coklat tua, paruh hitam kebiruan, kaki biru kelam. 
Suara: Umumnya diam pada musim dingin, tetapi tidak banyak berbeda dengan Sikatan emas. 
Penyebaran global: Berbiak di Asia timur laut, bermigrasi pada musim dingin ke Asia tenggara, Filipina, dan 
Kalimantan. 
Penyebaran lokal dan status: Di Kalimantan pengunjung musim dingin yang jarang di hutan terbuka dan 
pinggir hutan, sampai ketinggian 1.400 m di Dataran Tinggi Kelabit. 
Kebiasaan: Khas sikatan, memburu serangga dari tenggeran tajuk dan lapisan vegetasi tengah. 

694. SIKATAN MUGIMAKI Ficedula mugimaki Lembar Gambar 77 
(I: Mugimaki Flycatcher) 
Deskripsi: Berukuran kecil (13 cm), berwarna jingga, hitam, dan putih (jantan), atau coklat dan jingga (betina). 
Jantan: tubuh bagian atas kelabu kehitaman, alis putih sempit di belakang mata, ada bercak putih pada sayap dan 
pinggir pangkal ekor, tenggorokan, dada, dan sisi perut jingga; perut tengah dan penutup ekor bawah putih. 
Betina: tubuh bagian atas coklat, tubuh bagian bawah seperti jantan, tetapi berwarna lebih muda. Remaja: tubuh 
bagian atas coklat polos, tubuh bagian bawah kuning tua, perut putih. 
Iris coklat tua, paruh kelabu tua, kaki kecoklatan. 
Suara: Sering bersuara “trrrr” yang lembut, diselingi "tii" mirip suara Sikatan emas. 
Penyebaran global: Berbiak di Asia utara. Migrasi ke selatan pada musim dingin sampai Asia tenggara, 
Filipina, Sulawesi, dan Sunda Besar. 
Penyebaran lokal dan status: Pengunjung musim dingin yang tidak umum ke hutan dataran rendah dan 
pegunungan sampai ketinggian 1.500 m di seluruh Sumatera dan Kalimantan. Di Jawa dan Bali lebih jarang. 
Kebiasaan: Menghuni hutan perbukitan. Sering mengunjungi tajuk pinggir hutan, hutan bekas tebangan, dan 
hutan pedalaman. Sering terlihat duduk diam pada batang atau dahan pohon mati, terbang tiba-tiba untuk 
menangkap serangga yang sedang terbang. 

695. SIKATAN KERONGKONGAN-MERAH Ficedula parva Lembar Gambar 77 
(I: Red-breasted Flycatcher) 
Deskripsi: Berukuran kecil (11,5 cm), berwarna coklat. Bulu putih mencolok pada pinggir pangkal ekor yang 
berwarna gelap. Jantan biak: dada merah, tetapi jarang terlihat di Asia tenggara dan belum pernah terlihat di 
Kalimantan. Betina dan jantan tidak berbiak: coklat kelabu buram, tenggorokan keputih-putihan. 
Iris coklat tua, paruh dan kaki hitam. 
Suara: Tanda bahaya serak dan tajam: “tzik”. 
Penyebaran global: Berbiak di Paleartik, bermigrasi pada musim dingin ke Cina, Filipina, Asia tenggara, dan 
Kalimantan. 
Penyebaran lokal dan status: Pengembara yang jarang ke Kalimantan. 
Kebiasaan: Hidup di atas pohon kecil di pinggir hutan dan sepanjang sungai. Bergegas untuk bersembunyi 
dalam kerimbunan bila terganggu. Mengangkat ekor yang berwarna gelap untuk memperlihatkan bercak putih 
pada pangkalnya. Mengeluarkan suara klik yang keras. 

696. SIKATAN KERONGKONGAN-PUTIH Ficedula solitaris Lembar Gambar 77 
(I: Rufous-browed Flycatcher; M: Sambar Rengkung Putih) 
Deskripsi: Berukuran kecil (12 cm), berwarna kecoklatan. Perut putih, sisi tubuh dan garis pada dada coklat. 
Bercak putih pada tenggorokan (berbentuk segitiga mencolok) kadang-kadang dibatasi oleh garis hitam, 
terutama pada ras Sumatera utara. Mahkota dan sisi kepala merah karat; lingkar mata dan kekang kuning tua. 
Remaja: coklat-zaitun, tenggorokan keputih-putihan, tubuh bagian bawah bercoretan coklat karat. 
Iris coklat tua, paruh hitam, kaki merah jambu pucat. 
Suara: Kicauan berupa siulan berdesis yang lemah, suara tanda bahaya yang terdiri dari tiga nada menurun 
"three-blind-mice", dan suara "crr" berdengung serak. 
Penyebaran global: Asia tenggara, Semenanjung Malaysia, dan Sumatera. 
Penyebaran lokal dan status: Di Sumatera, umum terdapat secara lokal di lantai hutan lebat antara ketinggian 
900-2.400 m. 
Kebiasaan: Aktif dan ribut pada tumbuhan bawah hutan, hidup dekat lantai hutan. 

697. SIKATAN BODOH Ficedula hyperythra Lembar Gambar 77 
(I: Snowy-browed Flycatcher; M: Burung Sambar Kudong) 
Deskripsi: Berukuran kecil (11 cm), berwarna biru-kelabu atau merah karat. Jantan: tubuh bagian atas biru 
jelaga, alis putih pendek mencolok, tubuh bagian bawah jingga, tenggorokan, dada, dan sisi tubuh kuning tua. 
Betina: tubuh bagian atas coklat, tubuh bagian bawah kekuningan, alis kuning. Remaja: berbintik coklat. 
Iris coklat tua, paruh hitam, kaki kelabu sampai coklat. 
Suara: Nyanyian santai terdiri dari 3-4 nada lengking “ciit-cii-cii-caw” atau cicitan tunggal: "ciii". 
Penyebaran global: India utara sampai Cina selatan, Filipina, Asia tenggara, Semenanjung Malaysia, Sunda 
Besar, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara. 
Penyebaran lokal dan status: Di Sumatera, Kalimantan (ditemukan dari G. Kinabalu ke selatan sampai Tama 
Abo dan G. Mulu, juga Pegunungan Nyiut dan Pai), Jawa dan Bali, umum terdapat di hutan pegunungan antara 
ketinggian 900-3.100 m. 
Kebiasaan: Tidak menonjol. Duduk diam pada tenggeran rendah atau batang roboh, lalu terbang cepat untuk menangkap serangga tanah. Menghabiskan banyak waktu di tanah, berlompatan seperti cingcoang. Umumnya 
tinggal sendirian dan agak jinak. Sesekali memakan buah-buahan kecil. 

698. SIKATAN DADA-MERAH Ficedula dumetoria Lembar Gambar 77 
(I: Rufous-chested Flycatcher; M: Burung Sambar Dada Oren) 
Deskripsi: Berukuran kecil (11 cm), berwarna jingga, merah, dan putih (jantan). Jantan: tubuh bagian atas 
hitam, dagu kemerahmudaan. Alis, garis sayap, dan pinggir pangkal ekornya putih; dada dan sisi perut jingga; 
perut dan tungging putih. Betina: tubuh bagian atas coklat, kekang kuning tua, tubuh bagian bawah seperti 
jantan, tetapi berwarna lebih pucat. Ras Kalimantan: alis lebih mencolok. Perbedaannya dengan Sikatan 
mugimaki: dagu berwarna pucat, punggung lebih gelap, dan paruh lebih panjang. 
Iris coklat, paruh kecoklatan, kaki kelabu. 
Suara: Deringan tinggi: “tsst-tsst”, kicauan bervariasi, tetapi biasanya terdiri dari 3 nada, dengan tekanan pada 
nada terakhir. 
Penyebaran global: Semenanjung Malaysia dan Sunda Besar dan Nusa Tenggara. 
Penyebaran lokal dan status: Di Sumatera menghuni hutan perbukitan, antara ketinggian 600-1.500 m, tidak 
tercatat di selatan dari G. Kaba. Di Kalimantan, tidak umum terdapat di perbukitan, ditemukan di sepanjang 
perbukitan dan secara lokal sampai permukaan laut. Di Jawa terutama ditemukan di Jawa barat. Tidak tercatat di 
Bali, tetapi kemungkinan terdapat di sana. 
Kebiasaan: Menghuni hutan primer. Mencari makan dekat tanah. Agak pendiam. Umumnya hidup 
berpasangan. 

699. SIKATAN BELANG Ficedula westermanni Lembar Gambar 77 
(I: Little Pied Flycatcher; M: Sambar Gunung) 
Deskripsi: Berukuran kecil (11 cm), berwarna hitam dan putih (jantan) atau coklat dan putih (betina). Jantan: 
alis, garis sayap, pinggir pangkal ekor, dan tubuh bagian bawah putih, tubuh bagian atas hitam. Betina: tubuh 
bagian atas coklat keabuan, tubuh bagian bawah keputih-putihan, ekor merah karat. Remaja: coklat berbintik 
kuning kecoklatan. 
Iris coklat, paruh dan kaki hitam. 
Suara: Secara teratur mengeluarkan kicauan bernada tinggi yang lemah, nada-nada pertama naik, kemudian 
turun “pi-pi-pi-pi-pi” diselingi getaran rendah “crrr” dan "tii". 
Penyebaran global: India sampai Cina selatan, Filipina, Asia tenggara, Semenanjung Malaysia, Sunda Besar 
dan Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku. 
Penyebaran lokal dan status: Umum terdapat secara lokal di hutan pegunungan, antara ketinggian 1.000-2.600 
m di seluruh Sunda Besar. 
Kebiasaan: Sering mengunjungi hutan pegunungan, hutan lumut, dan hutan cemara gunung. Mencari makan 
pada semua tingkat tajuk. Sering bergabung dalam kelompok campuran. 

700. SIKATAN BIRU-PUTIH Cyanoptila cyanomelana Lembar Gambar 78 
(I: Blue-and-white Flycatcher) 
Deskripsi: Berukuran besar (17 cm), berwarna biru, hitam, dan putih (jantan) atau coklat dan putih (betina). 
Jantan: muka, tenggorokan, dan dada atas hitam; dada bawah, perut, dan penutup ekor bawah putih, tubuh 
bagian atas biru mengilap, ada bercak putih pada pangkal ekor. Betina: tubuh bagian atas coklat-kelabu, sayap 
dan ekor coklat; tenggorokan tengah dan perut putih. 
Iris coklat, paruh dan kaki hitam. 
Suara: Umumnya diam di daerah musim dingin. 
Penyebaran global: Berbiak di Asia timur laut, bermigrasi ke selatan sampai Cina, Asia tenggara, Filipina, dan 
Sunda Besar. 
Penyebaran lokal dan status: Pengunjung musim dingin yang teratur sampai ketinggian 1.400 m ke 
Kalimantan bagian utara, tetapi kurang umum di seluruh Kalimantan. Di Sumatera dan Jawa, pengunjung 
musim dingin yang jarang ke hutan perbukitan sampai ketinggian 1.200 m. Di Bali tidak tercatat. 
Kebiasaan: Mengunjungi hutan primer dan hutan sekunder. Mencari makan pada tajuk pohon yang cukup 
tinggi. Juga memakan beberapa macam buah-buahan. 

701. NILTAVA KEMBANG-PADI Niltava grandis Lembar Gambar 78 
(I: Large Niltava; M: Burung Sambar Kumbang Padi) 
Deskripsi: Berukuran besar (22 cm), berwarna gelap. Jantan: tubuh bagian atas dan mahkota biru; setrip pada 
sisi leher, bercak pada bahu, dan tungging biru berkilau, tubuh bagian bawah hitam. Betina: coklat-zaitun-merah 
karat, mahkota kelabu-biru, bercak leher biru muda, tenggorokan keputih-putihan. Remaja: coklat, ada bintik�bintik putih pada kepala dan bintik merah karat pada punggung, tubuh bagian bawah bersisik hitam 3
Iris coklat tua, paruh hitam, kaki kelabu. 
Suara: Siulan jernih meninggi terdiri dari tiga nada, didahului oleh nada anggun: “k'tiu-tiu-ti”, juga suara 
memaki-maki berderik. 
Penyebaran global: Nepal sampai Cina barat daya, Asia tenggara, Semenanjung Malaysia, dan Sumatera. 
Penyebaran lokal dan status: Di Sumatera cukup umum terlihat di hutan perbukitan dan pegunungan antara 
ketinggian 900-1.500 m, secara lokal bisa mencapai ketinggian 2.500 m. 
Kebiasaan: Hidup menyendiri pada tumbuhan bawah yang rimbun di hutan perbukitan dan pegunungan. 

702. NILTAVA SUMATERA Niltava sumatrana Lembar Gambar 78 
(I: Rufous-vented Niltava) 
Deskripsi: Berukuran sedang (15 cm), berwarna gelap. Jantan: tubuh bagian atas biru tua, mahkota, bercak pada 
sisi leher, bercak pada bahu, tunggir, dan penutup ekor biru berkilap; tenggorokan dan sisi kepala hitam, tubuh 
bagian bawah jingga. Betina: coklat, ada garis putih sempit pada tenggorokan dan bercak biru berkilat pada 
bahu. Remaja: coklat, ada bintik merah karat pada tubuh bagian atas dan sisik hitam pada tubuh bagian bawah. 
Iris coklat tua, paruh hitam, kaki kelabu kebiruan. 
Suara: “Tcik” yang keras. 
Penyebaran global: Semenanjung Malaysia dan Sumatera. 
Penyebaran lokal dan status: Di Sumatera utara, umum terdapat secara lokal di hutan pegunungan, di atas 
ketinggian 1.000 m sampai batas pepohonan, tercatat ke selatan sampai G. Kerinci. 
Kebiasaan: Menyendiri, hidup pada tumbuhan bawah dan lapisan tengah hutan lebat di pegunungan tinggi. 
Sangat umum terdapat di puncak G. Kerinci. 

703. SIKATAN BESAR Cyornis concretus Lembar Gambar 78 
(I: White-tailed Flycatcher) 
Deskripsi: Berukuran agak besar (19 cm), berwarna gelap. Ras Sumatera: berbercak putih mencolok pada 
ekornya yang terkembang. Jantan: tubuh bagian atas biru tua, terdapat warna hitam pada sisi kepala dan bulu 
terbang, dada hitam menjadi putih pada tungging. Betina: coklat, ada garis putih lebar pada tenggorokan, perut 
dan penutup ekor bawah putih. Remaja: tubuh bagian atas coklat berbintik-bintik merah karat, tubuh bagian 
bawah bersisik hitam. 
Iris coklat tua, paruh hitam, kaki kelabu tua. 
Suara: Siulan berdesis bervariasi dan tanda bahaya: “skrii” serak. 
Penyebaran global: Assam, Asia tenggara, Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan. 
Penyebaran lokal dan status: Di Sumatera dan Kalimantan, kadang-kadang terlihat di hutan perbukitan antara 
ketinggian 300-1.300 m. Juga sampai dekat daerah pesisir di beberapa tempat di Kalimantan. 
Kebiasaan: Hidup menyendiri pada tumbuhan bawah di hutan perbukitan dan pegunungan. 

704. SIKATAN ACEH Cyornis ruckii Lembar Gambar 78 
(I: Rueck’s Blue-flycatcher) 
Deskripsi: Berukuran agak besar (17 cm), berwarna biru. Jantan: kepala, tenggorokan, dan dada biru; tunggir 
dan penutup ekor atas biru berkilap. Perbedaannya dengan Sikatan biru-muda: warna lebih gelap, tungging biru 
berkilat, paruh lebih besar. Betina: tubuh bagian atas coklat- merah bata, tunggir dan ekor merah bata, dada 
merah karat menjadi keputih-putihan pada perut. Perbedaannya dengan Sikatan biru-muda betina: dada merah 
karat. Remaja: tubuh bagian atas coklat berbintik kuning tua, tubuh bagian bawah bersisik hitam menjadi 
keputih-putihan pada perut tengah. Dahi, lingkar mata, tenggorokan, dan dadanya merah bata. 
Iris coklat, paruh dan kaki hitam. 
Suara: Tidak diketahui. 
Penyebaran global: Endemik di Sumatera. 
Penyebaran lokal dan status: Rentan (Collar dkk. 1994). Hanya diketahui empat ekor. Dua dikoleksi di hutan 
sekunder di dataran rendah di daerah Medan, Sumatera utara. Dua lainnya dari Semenanjung Malaysia yang 
diragukan asalnya. Mungkin jenis ini endemik di Sumatera. 
Kebiasaan: Ditemukan di hutan bekas tebangan. 
Catatan: Jenis ini dianggap dekat dengan Sikatan Hainan Cyornis hainana dari Cina selatan dan Indocina. 

705. SIKATAN BIRU-MUDA Cyornis unicolor Lembar Gambar 78 
(I: Pale Blue-flycatcher) 
Deskripsi: Berukuran agak besar (16 cm), berwarna biru muda (jantan) atau kecoklatan (betina). Jantan: tubuh 
bagian atas biru pirus terang, kekang hitam, tenggorokan dan dada biru lebih muda, perut putih keabuan, 
penutup ekor bawah putih. Betina: tubuh bagian atas coklat-kelabu, ekor lebih coklat-merah bata, tubuh bagian 
bawah coklat keabuan, lingkar mata dan kekang kuning-coklat. Remaja: coklat, berbintik hitam dan kuning kecoklatan. 
Iris, paruh, dan kaki coklat. 
Suara: Nyanyian manis, nyaring, menurun, kemudian tiga nada terakhir menaik lagi. Juga suara parau (kadang�kadang). 
Penyebaran global: Himalaya sampai Cina selatan, Asia tenggara, Semenanjung Malaysia, dan Sunda Besar. 
Penyebaran lokal dan status: Di Sumatera ditemukan di gunung-gunung ke selatan sampai G. Kerinci. Di 
Kalimantan dan Jawa tidak umum terdapat di hutan perbukitan antara ketinggian 500-1.400 m, secara lokal 
sampai ketinggian 200 m di Kalimantan. Di Bali tidak tercatat. 
Kebiasaan: Tinggal pada tajuk di hutan primer. Agak pemalu. 

706. SIKATAN CACING Cyornis banyumas Lembar Gambar 78 
(I: Hill Blue-flycatcher; M: Burung Sambar Bukit) 
Deskripsi: Berukuran sedang (15 cm), berwarna biru, jingga, dan putih (jantan) atau coklat (betina). Jantan: 
tubuh bagian atas biru tua, dahi dan alis pendek biru muda; kekang, sekitar mata, pipi depan, dan bintik pada 
dagu hitam; tenggorokan, dada, dan sisi tubuh jingga, perut putih. Perbedaannya dengan sikatan biru berdada 
jingga lainnya: tenggorokan jingga, bintik dagu hitam, tunggir tidak mengilap. Betina: tubuh bagian atas coklat, 
lingkar mata kuning tua, tubuh bagian bawah seperti jantan, tetapi berwarna lebih pucat. Remaja: coklat, 
berbintik jingga-kuning tua pada tubuh bagian atas. 
Iris coklat, paruh hitam, kaki coklat. 
Suara: Kicauan terdiri dari dua sampai empat nada merdu nyaring, dan getaran menurun yang agak murung, 
diselingi nada parau. Tanda bahaya: “cek-cek” yang serak. 
Penyebaran global: Nepal sampai Cina barat daya, Palawan, Asia tenggara, Semenanjung Malaysia, 
Kalimantan, dan Jawa. 
Penyebaran lokal dan status: Di Jawa, lebih umum terdapat dibandingkan sikatan lain (pada ketinggian rendah 
sampai 1.300 m). Di Kalimantan hanya terdapat secara lokal di perbukitan (tidak umum). 
Kebiasaan: Mengunjungi daerah terbuka yang teduh pada tumbuhan bawah di hutan primer dan hutan sekunder 
pada semua ketinggian. Jika Sikatan mangrove tidak ada, jenis ini menghuni hutan pantai. Duduk diam, berburu 
dari tenggeran rendah. 

707. SIKATAN BIRU-LANGIT Cyornis caerulatus Lembar Gambar 78 
(I: Large-billed Blue-flycatcher) 
Deskripsi: Berukuran agak kecil (154 cm), berwarna biru dan jingga. Jantan: tubuh bagian atas biru, dahi, 
punggung bawah, dan tunggir biru mengilap, dada merah bata-jingga tua menjadi kuning tua pada perut, 
tenggorokan berwarna lebih pucat daripada dada. Terdapat variasi antar-ras. Ras jantan Serawak: dagu hitam, 
ras Kalimantan barat: dahi tersapu merah bata, ras Sumatera: tungging lebih putih. Perbedaannya dengan 
Sikatan cacing: tunggir biru mengilap. Betina: tubuh bagian atas coklat, tunggir dan ekor biru, ada sapuan 
kebiruan pada mantel, tubuh bagian bawah seperti jantan, tanpa bintik hitam pada dagu. 
Iris coklat tua, paruh hitam, kaki kelabu tua. 
Suara: Kicauan terdiri dari beberapa nada lemah bernada tinggi disusul satu atau dua nada yang lebih nyaring, 
rendah, dan panjang: "si-si-tiuuuw". 
Penyebaran global: Endemik di Sumatera dan Kalimantan. 
Penyebaran lokal dan status: Burung dataran rendah yang langka di Sumatera (hanya diketahui dari beberapa 
catatan). Tidak umum pada ketinggian menengah di hutan Kalimantan. 
Kebiasaan: Memburu serangga dari tenggeran rendah yang mencolok di hutan bekas tebangan. Di tempat yang 
jauh dari pesisir dan sungai, jenis ini menggantikan keberadaan Sikatan Melayu dan Sikatan bakau. 

708. SIKATAN KALIMANTAN Cyornis superbus Lembar Gambar 78 
(I: Bornean Blue-flycatcher) 
Deskripsi: Berukuran sedang (15 cm), berwarna biru dan jingga. Jantan: tubuh bagian atas biru, dahi, alis, 
tengkuk, dan punggung bawah biru mengilap, dada jingga, lebih muda pada tenggorokan dan berubah menjadi 
putih pada tungging. Betina: coklat, dengan dahi, tunggir, dan ekor merah bata mencolok. 
Iris coklat tua, paruh hitam, kaki kelabu-biru. 
Suara: Kicauan manis, terdiri dari dua sampai enam nada nyaring tinggi yang bersusulan cepat dengan lagu 
yang sangat bervariasi. 
Penyebaran global: Endemik di Kalimantan. 
Penyebaran lokal dan status: Di Kalimantan, tidak umum di hutan perbukitan antara ketinggian 600-1.600 m, 
secara lokal ditemukan di dataran rendah. 
Kebiasaan: Hidup di hutan gelap dekat aliran air dan memburu serangga dari tenggeran rendah. 

709. SIKATAN MELAYU Cyornis turcosus Lembar Gambar 78 
(I: Malaysian Blue-flycatcher; M: Burung Sambar Biru Malaysia) 
Deskripsi: Berukuran kecil (13 cm), berwarna biru tua. Jantan: tubuh bagian atas biru, tenggorokan biru terang, 
kekang dan bulu terbang hitam, tunggir biru mengilap, dada merah bata-jingga, perut putih. Ras bervariasi 
dalam tingkat terang warna birunya. Betina: seperti jantan, tetapi dagu dan tenggorokan putih. Remaja: tubuh 
bagian atas coklat, berbintik kuning tua, sayap dan ekor biru, dada kuning tua dengan sisik hitam, berubah 
menjadi putih kotor pada perut. 
Iris coklat, paruh hitam, kaki kehitaman. 
Suara: Tanda bahaya berciut: “crrk” atau nyanyian lemah: “didel-didel-dii-didel-dii”. 
Penyebaran global: Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan. 
Penyebaran lokal dan status: Di Sumatera cukup umum. Tetapi di Kalimantan penghuni hutan dataran rendah 
yang lebih jarang, sampai ketinggian 800 m (tetapi umumnya ditemukan di bawah ketinggian 100 m). 
Kebiasaan: Lebih menyukai hutan dataran rendah dan rawa, biasanya dekat aliran air dan sungai. 

710. SIKATAN RANTING Cyornis tickelliae Lembar Gambar 78 
(I: Tickell’s Blue-flycatcher; M: Sambar Kelicap Ranting) 
Deskripsi: Berukuran sedang (15 cm), berwarna biru tua. Jantan: seperti Sikatan cacing, tetapi lebih terang 
dengan pembatasan lebih tajam antara dada yang merah-jingga dan perut yang putih. Betina: seperti jantan, 
tetapi tubuh bagian atas jauh lebih kelabu. Remaja: tidak dapat dibedakan dengan remaja Sikatan cacing. 
Iris coklat, paruh hitam, kaki kehitaman. 
Suara: Lima-tujuh nada getaran metalik yang menurun perlahan dan tanda bahaya parau: “trrrt”. 
Penyebaran global: India, Asia tenggara, Semenanjung Malaysia, dan Sumatera. 
Penyebaran lokal dan status: Di Sumatera, diperkirakan jarang di semak pantai, diketahui hanya dari satu ekor 
di sungai Tasik, Sumatera utara. 
Kebiasaan: Memburu serangga dari tenggeran rendah di hutan atau dari tanah. 

711. SIKATAN BAKAU Cyornis rufigastra Lembar Gambar 78 
(I: Mangrove Blue-flycatcher; M: Burung Sambar Biru Bakau) 
Deskripsi: Berukuran sedang (15 cm), berwarna biru, jingga, dan putih. Sangat mirip Sikatan cacing. 
Perbedaannya: dahi tidak biru muda, dagu lebih hitam, tubuh bagian bawah merah bata meluas lebih jauh ke 
bawah perut. Betina: seperti jantan, tetapi berwarna lebih pucat, kekang keputih-putihan (membentuk huruf V di 
atas paruh), dan dagu putih kekuningan. Ras bervariasi sedikit. 
Iris coklat, paruh hitam, kaki berdaging kebiruan. 
Suara: Nyanyian merdu dan nyaring, mirip nyanyian Sikatan cacing. 
Penyebaran global: Filipina, Sulawesi, Semenanjung Malaysia, dan Sunda Besar. 
Penyebaran lokal dan status: Di Sumatera (termasuk pulau-pulau di sekitarnya), terutama ditemukan di hutan 
pantai dan hutan mangrove di dataran rendah timur dan pulau-pulaunya. Cukup umum terdapat di pesisir 
Kalimantan (termasuk pulau-pulau di sekitarnya). Sekarang agak jarang di hutan pantai dan pulau-pulau kecil di 
Jawa (termasuk Karimun Jawa), kebanyakan terdapat di Jawa barat, walaupun tercatat juga di Segara Anakan 
dan Baluran. Di Bali tidak terdapat. 
Kebiasaan: Menghuni pulau-pulau kecil, biasanya merupakan sikatan yang umum di tempat Sikatan cacing 
tidak ada (misalnya Kep. Krakatau). Di daratan: terbatas di hutan pantai, hutan mangrove, dan perkebunan 
pesisir. Sering ditemukan berpasangan, mudah dikenali karena betinanya berwarna biru. Berburu dekat tanah, 
sangat menyukai rumpun nipa. 

712. SIKATAN KERDIL Muscicapella hodgsoni Lembar Gambar 77 
(I: Pygmy Blue-flycatcher) 
Deskripsi: Berukuran sangat kecil (10 cm), berparuh sempit. Jantan: tubuh bagian atas biru, mahkota dan 
tunggir biru berkilap, topeng hitam, tubuh bagian bawah merah bata kekuningan, perut tengah dan tungging 
putih. Betina: tubuh bagian atas coklat, tunggir dan ekor merah bata, tubuh bagian bawah keputih-putihan, 
tersapu kuning tua pada dada. 
Suara: Tidak ada informasi. 
Penyebaran global: Himalaya, Asia tenggara, Sumatera, dan Kalimantan. 
Penyebaran lokal dan status: Ditemukan di Pegunungan Sumatera utara ke selatan sampai G. Kerinci, antara 
ketinggian 1.100-2.400 m, tetapi hanya ada beberapa catatan. Di Kalimantan diketahui hanya dari G. Kinabalu, 
G. Mulu, dan G. Dulit, serta di Peg. Mueller di Kalimantan. 
Kebiasaan: Menyukai lapisan bawah hutan primer, kadang-kadang turun ke bawah, tetapi jarang ke lapisan 
tengah. Suka membuka-buka sayap dan menegakkan ekor (P.R)

713. SIKATAN KEPALA-ABU Culicicapa ceylonensis Lembar Gambar 77 
(I: Grey-headed Flycatcher; M: Burung Sambar Pacat) 
Deskripsi: Berukuran kecil (12 cm), khas dengan kepala dan dada keabuan serta sedikit jambul. Tubuh bagian 
atas berwarna zaitun, tubuh bagian bawah kuning. 
Iris coklat, paruh atas hitam, paruh bawah kelabu, kaki coklat kekuningan. 
Suara: Siulan manis, jelas: "ci-ti, ci-ti" dengan penekanan pada suku pertama, atau "piit-wit, wi-dii" dengan 
penekanan pada nada terakhir, juga suara bergetar “cirri”. 
Penyebaran global: India sampai Cina selatan, Asia tenggara, Semenanjung Malaysia, dan Sunda. 
Penyebaran lokal dan status: Di Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sumatera (termasuk pulau-pulau di sekitarnya), 
umum tersebar luas di hutan, paling umum di hutan pegunungan antara ketinggian 600-1.600 m, tetapi juga 
tercatat di dataran rendah sampai ketinggian 2.200 m. 
Kebiasaan: Aktif dan ribut. Terbang dari cabang ke cabang, memburu dan mengintai serangga yang terbang. 
Secara teratur membuka-buka ekor. Biasanya hidup pada tajuk bawah atau tajuk tengah. Sering bergabung 
dalam kelompok campuran. 
Catatan: Studi DNA memperlihatkan bahwa marga ini berkerabat dekat dengan suku Eopsaltriidae di Australia. 

Sumber:Fieldguide burung FKJB dll